<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Copiyan</title>
	<atom:link href="http://copiyan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://copiyan.wordpress.com</link>
	<description>Ku Suka, Ku Baca, Ku Muat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Aug 2011 08:44:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='copiyan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/8db212a70c68476f06ab354ba401ba75?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Blog Copiyan</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://copiyan.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Copiyan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://copiyan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Musik Cadas?</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/musik-cadas/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/musik-cadas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 06:26:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[samsudin berlian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1429</guid>
		<description><![CDATA[Musik Cadas? Kompas : Jumat, 5 November 2010 &#124; 05:31 WIB SAMSUDIN BERLIAN Ada saja yang mengindonesiakan jenis musik yang dalam bahasa Inggris disebut rock atau rock and roll dengan istilah musik cadas. Sampai ada di Facebook segala. Malah kabarnya di Surabaya ada sekolah bernama begitu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, cadas hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1429&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101105_musik-cadas.jpg"><img class="size-medium wp-image-1430 alignleft" title="101105_Musik Cadas" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101105_musik-cadas.jpg?w=300&#038;h=185" alt="" width="300" height="185" /></a>Musik Cadas?</strong></p>
<p style="text-align:center;">Kompas : Jumat, 5 November 2010 | 05:31 WIB</p>
<p style="text-align:center;">SAMSUDIN BERLIAN</p>
<p>Ada saja yang mengindonesiakan jenis musik yang dalam bahasa Inggris disebut rock atau rock and roll dengan istilah musik cadas. Sampai ada di Facebook segala. Malah kabarnya di Surabaya ada sekolah bernama begitu.<span id="more-1429"></span></p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, cadas hanya berarti ”batu”, tapi dalam lema musik ada sublema musik cadas yang diartikan ”musik keras”. Entah apa maksud definisi konyol ini. Barangkali musik gamelan atau keroncong yang disetel dengan volume pol.</p>
<p>Dalam bahasa Inggris, rock punya banyak arti. Ada dua kelompok makna utama. Yang satu berkaitan dengan kata benda batu. Yang lain dengan kata kerja goyang. Kata benda rock ”batu” berasal dari kata Perancis Kuno rocque, sedangkan kata kerja rock ”goyang” dari kata Inggris Kuno roccian. Yang penting di sini adalah bahwa makna musikal kata itu hanya berkait dengan rock ”goyang”.</p>
<p>Kata kerja rock berarti menimang-nimang [bayi] dengan lembut supaya tenang atau tertidur. Bahkan, angin dan laut yang membuai berayun-ayun bisa pula nge-rock dalam arti ini. Ia juga berarti bergerak, atau menggerakkan, bolak-balik, seperti guncangan mobil ketika melewati polisi tidur beruntun. Itulah sebabnya rock pun berarti bergerak, berputar, atau berdansa mengikuti irama musik. Namun, bukan sembarang musik, melainkan musik rock ’n’ roll yang muncul pada pertengahan abad ke-20 di Amerika berkat pengaruh musik Afrika atas musik Eropa. Salah satu pengaruh ini terletak pada dentuman atau pukulan irama yang kuat.</p>
<p>Istilah rock and roll sendiri bukan hanya mengacu pada jenis musik tertentu, melainkan juga pada sebentuk gaya hidup hura-hura dan agak memberontak, termasuk dalam urusan seksual. Kata kerja roll yang berarti berguling itu memang dekat maknanya dengan apa yang terjadi di atas kasur, walaupun orang Amerika tidak kenal bantal panjang kita yang nyaman itu. Maka, banyak orangtua zaman itu, serta orang-orang yang suka memaksakan kesalehan kepada orang lain, menyebut jenis musik ini musik setan.</p>
<p>Nah, para orangtua zaman sekarang tumbuh dewasa dengan musik rock and roll, jadi mereka tidak terlalu antipati, bahkan masih menikmati. Yang masih jengkel mungkin pemusik ”murni” yang menganggap pengaruh Afrika itu menjerumuskan musik dunia ke level paling rendah asal gedebak-gedebuk. Memang musik tradisional Eropa dan Asia, termasuk musik yang dianggap adiluhung di Nusantara, kadang dianggap lebih unggul karena sudah melewati tahap jingkrak-jingkrak yang infantil itu. Sayang, kalah di pasar.</p>
<p>Jadi, apa pasal dengan cadas? Yah, tidak ada. Kalau istilah itu dipaksakan dipakai terus, namanya kepala cadas. Mau istilah baru? Beberapa kata yang bisa dipertimbangkan termasuk: goyang guling gulung guncang gelinding gelundung gonjang ganjing. Kalau mau gampang: musik rok.</p>
<p>Samsudin Berlian <em>Pemerhati Makna Kata</em></p>
<p>Gambar : http://www.nazrielfadillah.cc.cc<em></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1429/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1429&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/musik-cadas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101105_musik-cadas.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">101105_Musik Cadas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mawas Diri</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/mawas-diri/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/mawas-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 06:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1426</guid>
		<description><![CDATA[Mawas Diri Sabtu, 6 November 2010 &#124; 04:14 WIB SUGI LANUS Mawas diri, yang bersumber dalam kearifan lokal Nusantara, adalah panduan untuk menghindarkan kehidupan kita dari musibah atau bencana. Kata ”mawas” ini berasal muasal dari bahasa Jawa Kuna, yaitu was. Was &#62; jelas, terang, dan tampak. Tersirat makna ”dengar dengan jelas” atau ”lihat dengan jelas”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1426&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Mawas Diri</strong></p>
<p style="text-align:center;">Sabtu, 6 November 2010 | 04:14 WIB</p>
<p style="text-align:center;">SUGI LANUS</p>
<p>Mawas diri, yang bersumber dalam kearifan lokal Nusantara, adalah panduan untuk menghindarkan kehidupan kita dari musibah atau bencana.</p>
<p>Kata ”mawas” ini berasal muasal dari bahasa Jawa Kuna, yaitu was. Was &gt; jelas, terang, dan tampak. Tersirat makna ”dengar dengan jelas” atau ”lihat dengan jelas”. ”Mawas” berarti melihat atau mendengar dengan teliti dan sejelas-jelasnya sampai kita mencapai titip pemahaman atau sampai memiliki wawasan.<span id="more-1426"></span></p>
<p>Bersikap ”waspada” dan ”awas” adalah implementasi mawas diri. ”Awas” dan ”waspada” juga berasal dari akar kata was. ”Awas” berarti senantiasa memakai mata dan pikiran untuk tetap terjaga. Untuk melihat jalan hidup dengan jelas. Iwas dalam bahasa Bali berarti awas; iwasin berarti awasi, perhatikan, atau jaga.</p>
<p>Was+pada lebih jelas lagi sebagai ”petunjuk teknis”; yang di dalamnya terkandung panduan untuk melihat atau memerhatikan (was) gerak langkah kaki (pada). Was &gt; lihat. Pada &gt; kaki. Pada juga berarti tanah atau bumi atau dunia. Waspada, dengan demikian, berarti berhati-hati dalam bertindak, berhati-hati dalam bergerak langkah, tidak lengah mengerakkan kaki (tindak dan tanduk) kita. Juga berarti berhati-hati dalam menangkap fenomena bumi dan alam semesta.</p>
<p>”Waswas” justru berkebalikan dengan mawas. ”Waswas”, jika kita urai dari muasal bentukan katanya, berarti menoleh-noleh (ke belakang). Tidak nyaman, merasa terhantui, atau ketidakpastian akibat ketiadaan wawasan atau pemahaman terhadap apa yang terjadi. Penyembuh waswas adalah wawasan; mereka yang memiliki wawasan akan bisa mengusir rasa waswas.</p>
<p>Pengawasan, diawasi, dan mengawasi adalah beberapa bentukan kata yang berakar kata was atau awas. Kata ”pengawasan” pada zaman Orde Baru bahkan dirangkai dengan kata ”melekat”, muncul istilah ”waskat” (pengawasan melekat), sebuah proyek negara untuk ”memantau dan mengintai” secara intensif orang-orang yang dianggap berbahaya atau merongrong negara.</p>
<p><strong>Mawas atas bencana</strong></p>
<p>Untuk memantau sesuatu, sebuah kantor atau institusi memerlukan sistem pengawasan. Secara fisik, sebuah institusi perlu membuat menara pengawas.</p>
<p>Di ”musim bencana” seperti sekarang, kita dituntut menjadi ”mawas” secara kolektif. Pemimpin dan warga bangsa mesti mawas diri. Pengawasan terhadap titik-titik rawan bencana alam, seperti gunung meletus dan tsunami, perlu diawasi dengan ”waskat” (pengawasan melekat) yang lebih intensif. Titik-titik bencana tersebut memerlukan menara pengawas dan petugas yang sigap.</p>
<p>Petugas dan pemimpin dituntut mawas, awas, serta waspada dan sangat mendesak punya wawasan (ilmu pengetahuan) yang cukup karena mereka bertugas menjaga keselamatan ribuan, bahkan jutaan nyawa manusia.</p>
<p>Di saat ada getar gempa di sebuah lokasi, pengawas, tim yang telah dipersiapkan, harus bergerak seketika. Para pengawas ini harus terhubung dengan orang-orang kunci atau para pemimpin masyarakat. Selanjutnya, informasi tersebut disebarkan kewaspadaan ke seluruh jaringan masyarakat.</p>
<p><strong>Kekuasaan yang Tiwas</strong></p>
<p>Mawas diri, dalam konteks personal, menjaga diri kita agar tak tergelincir ke dalam jebakan keangkuhan diri, takabur, keserakahan, nafsu kuasa, dan seksual. Dalam konteks yang lebih luas, dalam tata pemerintahan, mawas diri bisa menjadi gerakan kewaspadaan nasional. Berjaringan secara strategis dan sistematis memetakan potensi bencana. Memetakan titik-titik rawan yang mengancam warga bangsa, yang merongrong rasa aman warga negara. Mereka harus diperlengkapi dengan wawasan, perangkat, dan sistem pengawasan yang terbaik.</p>
<p>Kata was dekat dengan kata wasa. Was &gt; lihat dan dengar dengan jelas. Wasa &gt; kuasa. Wasa adalah akar kata ”kuasa” dan ”kekuasaan”. Jika kekuasaan (pemerintahan) menjadi kuwasa (aku berkuasa alis arogan), ia akan kehilangan was (kemampuan dan ketelitian untuk mendengar dan melihat). Pemerintahan akan menuju tiwas (berakar dari neti+was &gt; tanpa pengawasan dan tanpa pendengaran, tanpa mata hati). Tiwas berarti lacur, hina-papa, miskin, dan juga menjadi asal kata tewas (tak bernyawa).</p>
<p>Kekuasaan tidak menuju tewas kalau mereka dengan ikhtiar dan kemurnian diri untuk terus-menerus mawas diri. Awas, eling, sadar, dan waspada. Mendengar hati rakyat dan menjadikan suara hati rakyat sebagai wawasan dan pemandu dalam penyelenggaraan pemerintahan.</p>
<p>Rakyat jadi tak waswas kalau pemimpin punya wawasan dan bermawas diri. Jurang menuju musibah dan bencana (tiwas) sebuah peradaban bisa dihindari dengan mawas diri para pemimpin dan seluruh warganya.</p>
<p>Betapa arif bangsa kita dahulu. Hanya melalui bahasa, bahkan hanya dalam bentukan satu morfem saja, kita bisa membaca diri, mendapatkan substansi, bahkan solusi. Tapi justru, di bagian inilah, di soal bahasa—dan kembangannya—bangsa kita, terutama kaum elite dan penguasanya, tidak berkuasa. Maka jika, bahasa itu adalah kuasa, sungguh kosonglah ruang dalam kekuasaan yang ada di negeri ini. Waspadalah&#8230;.</p>
<p><strong>SUGI LANUS</strong> <em>Sarjana Bahasa dan Sastra Bali, Bekerja sebagai Peneliti Budaya dan Cultural Map</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1426/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1426&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/mawas-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Asing di Sekolah Langgar Undang-undang</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-asing-di-sekolah-langgar-undang-undang/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-asing-di-sekolah-langgar-undang-undang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 06:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain2]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1423</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa Asing di Sekolah Langgar Undang-undang Kompas : Senin, 8 November 2010 &#124; 04:27 WIB JEMBER, ANTARA &#8211; Peneliti bahasa, Dr Dendy Sugono, menilai penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah melanggar Undang-Undang Dasar 1945. ”Dalam UUD 1945 sudah jelas bahwa bahasa resmi negara yang digunakan adalah bahasa Indonesia,” kata Dendy seusai menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1423&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;"><strong>Bahasa Asing di Sekolah Langgar Undang-undang</strong></div>
<div style="text-align:center;">Kompas : Senin, 8 November 2010 | 04:27 WIB</div>
<div><img src="http://stat.k.kidsklik.com/data" alt="" /></div>
<p>JEMBER, ANTARA &#8211; Peneliti bahasa, Dr Dendy Sugono, menilai penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah melanggar Undang-Undang Dasar 1945.<span id="more-1423"></span></p>
<p>”Dalam UUD 1945 sudah jelas bahwa bahasa resmi negara yang digunakan adalah bahasa Indonesia,” kata Dendy seusai menjadi pembicara dalam seminar nasional dan dialog budaya di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (6/11).</p>
<p>Dendy mengatakan, sejumlah sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) menempatkan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan.</p>
<p>”Bukankah hal itu bertentangan dengan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan,” ucap mantan Kepala Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional itu.</p>
<p>Dalam kedua undang-undang tersebut, dia melanjutkan, bahasa pengantar pendidikan nasional adalah bahasa Indonesia sehingga sejumlah SBI dan RSBI seharusnya mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia, bukan bahasa asing seperti bahasa Inggris.</p>
<p>”Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan akan mereduksi peran bahasa Indonesia dari dunia keilmuan dan kehidupan masa depan bangsa,” kata anggota Masyarakat Linguistik Indonesia itu.</p>
<p>Menurut dia, internasionalisasi standar pendidikan di Indonesia hanya sebatas kulit, bukan substansi mutu pendidikan tersebut. ”Internasionalisasi standar pendidikan seharusnya menyentuh mutu pendidikan dan wawasan para siswanya, tidak sebatas pada penggunaan bahasa asing di sekolah,” ucapnya.</p>
<p>Kendati demikian, Pusat Bahasa tidak melarang sekolah mengajarkan bahasa asing. Namun, bahasa Indonesia harus mendapat prioritas utama untuk diajarkan kepada siswa.</p>
<p>Hal senada juga disampaikan budayawan Ayu Sutarto yang menilai bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat ini mengalami pergeseran nilai.</p>
<p>”Banyak orangtua berlomba-lomba mendidik anak mereka dengan bahasa asing, tetapi lupa bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang dapat membentuk karakter dan kepribadian bangsa,” tuturnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1423&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-asing-di-sekolah-langgar-undang-undang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.k.kidsklik.com/data" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa di Media Massa Semakin Gawat</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-di-media-massa-semakin-gawat/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-di-media-massa-semakin-gawat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 06:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain2]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1421</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa di Media Massa Semakin Gawat Kompas : Selasa, 9 November 2010 &#124; 03:32 WIB Jakarta, Kompas &#8211; Mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja mengakui, bahasa di media massa sudah semakin gawat. Selain dipenuhi akronim yang membingungkan masyarakat, nama rubrik media massa, terutama di televisi, juga semakin dipenuhi bahasa asing. ”Saya tidak tahu, apakah kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1421&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;"><strong>Bahasa di Media Massa Semakin Gawat</strong></div>
<div style="text-align:center;">Kompas : Selasa, 9 November 2010 | 03:32 WIB</div>
<div><img src="http://stat.k.kidsklik.com/data" alt="" /></div>
<p>Jakarta, Kompas &#8211; Mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja mengakui, bahasa di media massa sudah semakin gawat. Selain dipenuhi akronim yang membingungkan masyarakat, nama rubrik media massa, terutama di televisi, juga semakin dipenuhi bahasa asing.<span id="more-1421"></span></p>
<p>”Saya tidak tahu, apakah kalau menggunakan bahasa Indonesia kurang percaya diri? Tetapi, yang paling membingungkan adalah penggunaan singkatan atau akronim, termasuk dalam judul,” ungkap Atmakusumah dalam diskusi peringatan delapan tahun Forum Bahasa Media Massa (FBMM) di Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Jakarta, Senin (8/11). Diskusi tersebut dipandu Ketua Umum FBMM TD Asmadi.</p>
<p>Terkait banyaknya penggunaan akronim itu, Asmadi mengakui, tak jarang pengelola media massa menggunakan akronim buatan mereka sendiri. ”Saya pernah membaca judul di sebuah media massa ternama, yaitu ’Frustasi, Cakep Gandir’. Bingung kan? Ternyata, judul itu maksudnya adalah frustrasi, calon kepala sekolah gantung diri,” ungkapnya.</p>
<p>Selain persoalan akronim dan penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, Atmakusumah juga memprihatinkan bahasa asing yang diindonesiakan di media massa dan di masyarakat. Pengindonesiaan itu sering kali dipaksakan, bahkan salah. ”Ada istilah grand dalam bahasa Inggris yang diubah menjadi gran. Artinya apa?” kata dia lagi.</p>
<p>Dalam diskusi itu, peserta yang berasal dari wartawan, editor bahasa di media massa, editor dan penulis buku, serta pemerhati bahasa mengakui, Pusat Bahasa belum efektif untuk menyosialisasikan dan mendorong penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Pusat Bahasa pun tidak berani dijadikan acuan karena lebih bernuansakan proyek.</p>
<p>Asmadi menambahkan, kini semestinya tidak lagi didorong pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi yang komunikatif dan berkaidah.</p>
<p>(TRA)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1421&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-di-media-massa-semakin-gawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.k.kidsklik.com/data" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Juru Kunci</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/juru-kunci/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/juru-kunci/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 06:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[f rahardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1417</guid>
		<description><![CDATA[Juru Kunci Jumat, 12 November 2010 &#124; 02:51 WIB F RAHARDI Pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-DI Yogyakarta kembali meletus. Mbah Maridjan Sang Juru Kunci ikut jadi korban letusan. Frasa juru kunci kembali marak di media massa. Frasa ini mulai memasyarakat pada erupsi Merapi 2006. Ketika itu Mbah Maridjan menolak ikut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1417&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101112_juru-kunci.jpg"><img class="size-medium wp-image-1418 alignleft" title="101112_Juru Kunci" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101112_juru-kunci.jpg?w=300&#038;h=191" alt="" width="300" height="191" /></a>Juru Kunci</strong></p>
<p style="text-align:center;">Jumat, 12 November 2010 | 02:51 WIB</p>
<p style="text-align:center;">F RAHARDI</p>
<p>Pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-DI Yogyakarta kembali meletus. Mbah Maridjan Sang Juru Kunci ikut jadi korban letusan. Frasa juru kunci kembali marak di media massa. Frasa ini mulai memasyarakat pada erupsi Merapi 2006. Ketika itu Mbah Maridjan menolak ikut mengungsi dan tetap bertahan di kampungnya. Kampung Kaliadem di sebelah timur Kinahrejo hancur diterjang awan panas. Sementara itu, Kinahrejo kampung Mbah Maridjan selamat. Mbah Maridjan lalu menjadi idola dan bintang iklan.<span id="more-1417"></span></p>
<p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, juru kunci adalah penjaga dan pengurus tempat keramat, makam, dan sebagainya. Dalam entri KBBI, kuncen diartikan ’juru kunci’. Juru kunci dalam KBBI diadopsi dari Baoesastra Djawa WJS Poerwadarminta, djoeroe koentji ’wong sing pinatah ngrekso pakoeboeran oetawa papan sing kramat’.</p>
<p>Dalam Baoesastra Djawa, entri koentjèn malahan tidak ada. Yang ada pakoentjèn, yang diartikan sebagai rumah juru kunci. Belakangan kata pakuncèn dalam kosakata bahasa Jawa berkembang hingga hilang awalannya menjadi kuncèn. Maknanya juga berubah dari tempat tinggal menjadi jabatan, profesi. Istilah kuncèn umum digunakan dalam bahasa lisan, sedangkan juru kunci digunakan dalam bahasa tulis.</p>
<p>Awalnya istilah juru kunci hanya digunakan menyebut penjaga makam tokoh keramat. Makam mereka biasanya berada dalam bangunan berpintu dan pintu tersebut ditutup serta dikunci. Ketika ada yang datang, juru kunci akan melepas kunci, membuka pintu, dan menyilakan pengunjung masuk. Pengertian juru kunci kemudian berkembang. Frasa juru kunci juga diperuntukkan bagi para penjaga makam dan tempat keramat yang tak berada dalam bangunan. Bahkan, akhirnya gunung sebesar Merapi dan berada di ruang terbuka pun perlu dijaga juru kunci.</p>
<p>Gunung di Jawa memang selalu dikeramatkan masyarakat sekitar. Bahkan, masyarakat Jawa berkecenderungan aneh.</p>
<p>Merapi adalah gunung berapi yang dikeramatkan oleh dua keraton di Jawa: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kasunanan Surakarta ”menguasai” sisi utara Gunung Merapi di Kecamatan Sela, Kabupaten Boyolali. Kasultanan Yogyakarta ”menguasai” sisi selatan Gunung Merapi di Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan, Kabupaten Sleman.</p>
<p>Di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangringan, secara rutin Kasultanan Yogyakarta melakukan upacara adat yang dilaksanakan juru kunci. Ritus seperti ini sebenarnya peninggalan zaman neolitikum. Gunung berapi adalah tempat yang dilematis bagi manusia purba. Di satu sisi, lahan di sekitar gunung berapi sangat subur, sementara di sisi lain setiap saat mara bahaya akibat erupsi terus mengancam. Agar erupsi tak merusak dan menewaskan warga, gunung dibujuk dengan aneka ritus, termasuk pemberian sesaji dan kurban. Maka, seorang juru kunci pun diperlukan.</p>
<p><strong><em>F Rahardi</em></strong><em> Penyair</em></p>
<p>Gambar : http://nurirwan.wordpress.com<em></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1417/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1417&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/juru-kunci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101112_juru-kunci.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">101112_Juru Kunci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Iklan yang Menyesatkan</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-dan-iklan-yang-menyesatkan/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-dan-iklan-yang-menyesatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 05:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[samsudin berlian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1411</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa dan Iklan yang Menyesatkan Kompas : Jumat, 19 November 2010 &#124; 04:46 WIB SAMSUDIN BERLIAN Iklan tentulah bagus untuk menekan harga serta memulai dan memperbesar usaha. Masalah muncul ketika bahasa iklan tidak lagi sekadar memperkenalkan atau memuji-muji barang dan jasa pengiklan. Ada beragam taktik yang banyak dipakai sekarang untuk menyesatkan pelanggan sehingga membeli barang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1411&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101119_bahasa-iklan.jpg"><img class="size-full wp-image-1412 alignleft" title="101119_Bahasa Iklan" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101119_bahasa-iklan.jpg?w=274&#038;h=300" alt="" width="274" height="300" /></a>Bahasa dan Iklan yang Menyesatkan</strong></p>
<p style="text-align:center;">Kompas : Jumat, 19 November 2010 | 04:46 WIB</p>
<p style="text-align:center;">SAMSUDIN BERLIAN</p>
<p>Iklan tentulah bagus untuk menekan harga serta memulai dan memperbesar usaha. Masalah muncul ketika bahasa iklan tidak lagi sekadar memperkenalkan atau memuji-muji barang dan jasa pengiklan. Ada beragam taktik yang banyak dipakai sekarang untuk menyesatkan pelanggan sehingga membeli barang atau jasa yang tidak sesuai dengan harapannya.<span id="more-1411"></span></p>
<p>Obral dengan ungkapan up to atau sampai adalah salah satu yang paling umum dijumpai. Diskon up to 70% biasanya berarti bahwa dari 10.000 barang yang ditawarkan, ada 10 yang harganya dipotong 70 persen, 9.990 lagi dipotong kurang dari itu atau tidak sama sekali. Dalam banyak kasus, harga asli pun sudah lebih dahulu dinaikkan sebelum rabat. Ada lagi diskon 50%+20%. Pelanggan yang mengerti aturan penulisan dalam matematika maupun fisika untuk penjumlahan akan mengira ini 70%. Namun, yang dimaksud rupanya adalah 60%, yakni 50% ditambah dengan 20% dari 50%.</p>
<p>Begitu pula sambungan internet up to 1 Mbps—satu juta bit per detik—berarti kadang-kadang kecepatan unduh pelanggan akan mencapai angka itu, tetapi biasanya hanya separuhnya atau bahkan kurang. Apabila pelanggan mengeluhkannya, penyedia ISP selalu beralasan bahwa penyebab kelambatan itu ada di luar kekuasaannya atau kemungkinan besar masalahnya ada pada komputer atau kabel di dalam rumah pelanggan sendiri!</p>
<p>Pembuat perangkat komputer juga sering mencampuradukkan standar dunia komputer (biner atau basis-2) dengan standar metrik (desimal atau basis-10) yang berbeda. Misalnya, kalau Anda membeli cakram keras yang diiklankan sebesar 1 gigabyte (GB), yang Anda dapat biasanya bukan yang seharusnya 1.073.741.824 bytes (B), melainkan 1.000.000.000 B saja. Itulah sebabnya komputer Anda akan menunjukkan, kapasitas cakram keras itu hanya 0,93 GB, kurang 7 persen dari yang diiklankan!</p>
<p>Ada pula biaya tersembunyi atau tersamar. Banyak harga makanan restoran misalnya diiklankan tanpa biaya pajak dan tip wajib, service charge. Operator telepon genggam pandai beriklan tentang harga murah pulsanya, tetapi boleh dikata tidak ada yang menyatakan bahwa harga terendah biaya pemakaian telepon dibatasi oleh masa berlaku pulsa aktif. Apabila harga pulsa senilai Rp 10.000 berlaku selama dua minggu, paling tidak Anda tetap harus mengeluarkan uang sebesar itu setiap dua minggu, sekalipun operator menetapkan biaya panggil dan SMS Rp0!</p>
<p>Barang kemasan pun bisa dipakai untuk menipu. Isi semut kotak gajah. Belum lagi tawaran menggiurkan dengan ”syarat dan ketentuan berlaku” dan jangan lupa, hadiah menawan ”selama persediaan masih ada”.</p>
<p>Dalam banyak kasus, iklan menyesatkan tidak bisa dibuktikan. Namun, iklan berdampak menyesatkan karena memanfaatkan psikologi atau budaya pelanggan itu sehingga ia mengambil kesimpulan yang keliru, tetapi sesuai dengan kehendak pengiklan. Di sinilah peran perlindungan dari lembaga konsumen, DPR, dan pemerintah sangat diperlukan. Yang ini tak perlu studi banding sebab studi banding menyesatkan juga: ”jalan-jalan ke luar negeri dengan uang negara”.</p>
<p>SAMSUDIN BERLIAN <em>Pemerhati Makna Kata</em></p>
<p>Gambar : http://www.belajaringgris.net/panduan-promosi-kursus-bahasa-inggris-di-iklan-baris-gratis.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1411/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1411&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/11/19/bahasa-dan-iklan-yang-menyesatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/11/101119_bahasa-iklan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">101119_Bahasa Iklan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gandrung</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/13/gandrung/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/13/gandrung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 09:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen JP]]></category>
		<category><![CDATA[lan fang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Gandrung Minggu, 26 September 2010 Lan Fang APAKAH kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan. Konon, dahulu, pada saat bulan bulat sekilap mentega, orang-orang Cina berkumpul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1402&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100926_gandrung.jpg"><img class="size-full wp-image-1403 alignleft" title="100926_Gandrung" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100926_gandrung.jpg?w=200&#038;h=297" alt="" width="200" height="297" /></a><strong>Gandrung</strong></p>
<p style="text-align:center;">Minggu, 26 September 2010</p>
<p style="text-align:center;"><em>Lan Fang</em></p>
<p><strong>APAKAH</strong> kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan.<span id="more-1402"></span></p>
<p>Konon, dahulu, pada saat bulan bulat sekilap mentega, orang-orang Cina berkumpul di halaman rumah mencecap kue manis berisi biji lotus, kacang hijau, dan gula merah yang manis. Mereka bercengkerama memandang bulan purnama ditemani teh sepat sampai lewat malam.</p>
<p>Hikayatnya, pada suatu waktu, ada seorang putri terkurung di bulan. Namanya Chang Erl. Kekasihnya, Hou Yi, si pemanah ulung yang berhasil memadamkan sembilan matahari dengan anak-anak panahnya. Mereka hanya bisa bertemu sekali dalam setahun, bertemu pada saat bulan paling sempurna untuk rindu yang tidak pernah purna, tidak pernah punah. Orang-orang Cina menyebut saat itu sebagai <em>zhong qiu ye wan</em>. Konon, pada saat itu Chang Erl akan menjatuhkan kembang bulan untuk sepasang sejoli.</p>
<p>&#8221;Bulan purnama di pertengahan musim gugur? Kita tidak mengenal musim gugur. Saat ini kita berada pada <em>mangsa labuh</em>, sebuah musim yang terjepit di antara hujan dan kemarau,&#8221; gumammu tumpang tindih antara gemerisik dan bisik. Aku tidak bisa membedakannya. Sama saja.</p>
<p>Sebenarnya aku ingin menyanggah kata-katamu. Siapa bilang musim gugur tidak menyapa kita? Tadi aku berjumpa dengannya di sebuah jalan protokol dengan jalur kendaraan dua arah yang selalu sibuk. Pada bagian tengah jalan, lekuk-lekuk pohon meliuk. Mereka menjadi peneduh dari kegarangan sebiji matahari. Pada akar-akar mereka debu-debu mengabu.</p>
<p>Di sana daun-daun gugur. Dari ujung-ujung ranting, mereka melayang dengan pasrah. Mereka berputar-putar sebentar bagai dipermainkan angin lalu terkapar dengan lembut. Seakan-akan mereka tidak berniat untuk melawan. Atau mereka sadar bahwa melawan pun akan percuma?</p>
<p>Ketika itu, lidahku ingin menyeru, &#8221;Lihatlah! Angin saja tak tega menghempaskan daun. Kenapa kau begitu kepadaku?&#8221;</p>
<p>Tetapi aku terbungkam ketika mereka menyerbu bumi. Beruntun mereka menamparku dengan lembut, tamparan yang tidak mau kuhindari. Kemudian mereka bergerombol, saling menyelip, saling menyelinap, saling menumpuk, saling memenuhi kepalaku. Aku jadi putri dengan mahkota daun, mahkota ringkih yang dipersembahkan sang pedih.</p>
<p>Tetapi, lihatlah&#8230; Aku secantik Chang Erl, bukan?</p>
<p>Tiba-tiba ada laki-laki sekaya saudagar yang menggerutu, &#8221;Kau selalu tidak pernah tampil cantik.&#8221;</p>
<p>Laki-laki lain yang matanya sekeruh danau berpasir mencibiriku, &#8221;Hanya dengan daun, embun, hujan, kau sudah merasa cantik? Hah!&#8221; Masih ada laki-laki yang mulutnya dengan murah menyerapahiku, &#8221;Kau bukan cantik tapi binal!&#8221;</p>
<p>Kemudian saudagar laki-laki itu membawaku kepada seorang perempuan lalu berkata, &#8221;Belajarlah tentang kecantikan padanya.&#8221;</p>
<p>Sehari-hari, saudagar itu selalu tampak sebaik malaikat. Jadi aku yakin ia pun bermaksud baik padaku. Ia kerap berbisik padaku, berbisik seakan-akan tidak mau dan tidak boleh ada orang lain yang mendengar bisikannya. &#8221;Aku ingin mati saja.&#8221;</p>
<p>Aku heran, kenapa ia selalu ingin mati padahal seharusnya ia bisa menikmati hidup dengan kekayaannya? Atau karena aku fakir maka aku takut mati?</p>
<p>&#8221;Aku capai terbang dengan sebelah sayap,&#8221; gumamnya setengah tertawa sekaligus setengah menangis. Sejak itu aku mengerti bahwa ia bukan malaikat melainkan anak burung bersayap sebelah. Dengan letih ia mengayuh sayapnya yang sebelah, sayap kering tanpa bulu-bulu sehalus beludru. Pantas, ia selalu ingin mati.</p>
<p>Perempuan yang diperkenalkannya itu tampaknya juga setulus bidadari. Ia suka sekali menggeliat-geliat untuk mempertontonkan kecantikannya. Matanya selalu berkedip-kedip, lidahnya selalu dijulur-julurkan, kepalanya selalu digoyang-goyangkan, dan wajahnya rata seperti wajan penggorengan martabak.</p>
<p>Si saudagar laki-laki memandang perempuan itu dengan penuh kekaguman. &#8221;Lihatlah, betapa cantiknya dia tanpa hidung.&#8221; Ia bergairah bagaikan kerbau dicocok hidung. Pasti ia telah membatalkan keinginannya untuk mati.</p>
<p>Lalu perempuan tanpa hidung itu mengajariku cara mempercantik diri. Setiap malam, dengan mahir ia mencopoti hidung-hidung perempuan lain yang sedang bermimpi untuk ditempelkan di mulut, telinga, mata, dan hidungnya sendiri. Ia selalu tampil mempesona dengan wajah yang berhiaskan banyak hidung sampai subuh karena sebelum terang ia sudah harus mengembalikan hidung-hidung yang diambilnya tanpa izin itu.</p>
<p>Sekarang aku tahu kenapa aku selalu bermimpi buruk tentang perempuan tanpa hidung itu. Sebab aku tidak mau memberikan hidungku untuknya sekaligus aku tidak mau mempercantik diri dengan hidung-hidung imitasi.</p>
<p>Kemudian tentang laki-laki bermata pasir. Ia tidak pernah membawaku kepada perempuan lain. Ia kerap mengajakku duduk-duduk saja. Percakapan kami cenderung pembicaraan basi, seperti &#8221;kau suka apa?&#8221; tetapi ia tidak pernah memberikan apa yang kusukai. Bahkan ia suka melakukan apa yang tidak kusukai. Salah satunya adalah ia suka memegang <em>stopwatch</em> yang berbunyi untuk setiap detik yang telah terlampaui. Ia mirip sekali dengan pelatih atletik yang memacu anak latihnya berlari lebih cepat dari angka <em>stopwatch</em>.</p>
<p>Kesukaan lain yang disukainya adalah cerita tentang perempuan setengah baya yang menempel seperti lintah sehingga ia tidak pernah punya waktu untukku. Ia bercerita tanpa pernah bermaksud memperkenalkan diriku dengan perempuan yang kerap diceritakannya itu. Logikaku mengatakan bahwa ia pun betah menempel pada lintah betina tua itu dengan riang gembira. Karena setiap kali, tepat bersamaan dengan akhir ceritanya, setiap <em>stopwatch</em> berbunyi &#8221;tit&#8230;tit&#8230;tit&#8230;&#8221;, kulihat matanya mengeruh tetapi aku tidak menemukan pandangan bersalah di sana. Saat kami bertaut pandang ia tersenyum setulus bulus yang sedang berusaha menyenangkan hatiku.</p>
<p>Aku berkata, &#8221;Perjumpaan kita seperti pertandingan lari jarak pendek.&#8221;</p>
<p>Tetapi tampaknya ia tidak berniat memperpanjang waktu dengan memutar kembali <em>stopwatch</em>. &#8221;Maaf, sekarang sudah waktunya aku melayani lintah betina tua itu.&#8221; Ia suka sekali mengucapkan kata-kata itu.</p>
<p>Walaupun demikian, aku yakin bahwa ia juga suka padaku sebab laki-laki hanya mau minta maaf kepada perempuan yang disukainya. Jadi, seketika itu, dengan perasaan suka cita, aku menjawab, &#8221;Maaf, aku tidak suka dengan maafmu itu.&#8221;</p>
<p>Lain lagi dengan laki-laki yang mulutnya begitu murah serapah. Aku tahu betul dari mana ia berbelanja kata-kata sampah. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin belum pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat lagi. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin sudah pernah diam-diam membinali laki-laki. Oh, kuralat untuk kesekian kalinya. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak suka membinali laki-laki, mungkin perempuan terhormat itu suka membinali yang lainnya.</p>
<p>Jadi, terus terang kukatakan padanya bahwa aku perempuan yang mungkin tidak terhormat tetapi mungkin cantik dan mungkin suka membinali laki-laki. Tentu saja laki-laki yang sesuai seleraku. Seketika itu juga ia menjual semua koleksi kata-katanya: &#8221;Pelacur, sundal, lonte recehan!&#8221; Percuma. Aku sama sekali tidak berminat membeli kata-kata itu, apalagi membinali dirinya.</p>
<p>Nah, kau tidak seperti mereka. Kita bertemu pada suatu beranda tanpa lampion. Aku tidak yakin saat itu dalam keadaan gelap karena sumbu lilin cukup terang untuk melihatmu dalam keadaan memejam. Tampak wajahmu begitu tenang dan bersih sehingga aku langsung tergila-gila.</p>
<p>Aku ingat sebuah dongeng tentang Putri Tidur yang tertenung sampai seorang pangeran baik hati membangunkannya dengan ciuman. Aku yakin kau juga sedang dalam kuasa tenung sehingga aku ingin membebaskanmu dengan ciumanku.</p>
<p>Atau kau adalah drakula, Pangeran Kegelapan yang akan bangun pada saat gelap tiba? Bila demikian, aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, akan kurelakan hidupku tidak untuk hidup dan matiku tidak untuk mati. Aku ingin kau segera membuka mata; melihatku dan mendengarkanku, &#8221;Inilah leher kekasihmu, Taring Runcing&#8230;&#8221; Aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.</p>
<p>Tes!</p>
<p>Lilin yang kupegang lebih dahulu menjatuhkan minyaknya di bibirmu. Aku khawatir bibirmu terkelupas atau melepuh. Ternyata tidak. Bibirmu tetap seindah pualam. Minyak lilin mengental di sudut bibirmu. Pasti bibirmu dingin sekali. Aku kian ingin menghangatinya. Untuk kedua kalinya aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.</p>
<p>Blep!</p>
<p>Lilinku padam karena desis angin membuatnya tak berdaya. Tetapi keadaan tetap tidak gelap. Ada remah-remah cahaya yang jatuh sehingga aku bisa melihat dengan jelas bibirmu terkuak dengan indah. Lalu dengan ikhlas kusongsong kilaumu yang menancap padaku. Dingin sejenak saja kemudian kurasakan ada yang menetes, bercucuran, mengalir dengan cara yang sangat sepi. Begitu kekal.</p>
<p>Perlahan-lahan kelopak matamu membuka. Aku melihatmu, zahir yang menyihir. &#8221;Sssttt, ini aku, Tuan Mimpi. Bungkuslah rapat-rapat setiap pertemuan kita. Jangan sampai ada yang terselip di bulu mata, nanti orang lain menafsirkannya. Berjanjilah, hanya kita yang tahu rindu begitu syahdu.&#8221; Aku hanya mampu setia untuk setiap katamu.</p>
<p>Abad pun berganti abad, kunjunganmu kian paripurna. Mimpi bisa terjadi kapan saja. Tetapi aku yakin tidak sedang bermimpi setiap bertemu denganmu. Sebab aku menyimpan dirimu dalam ingatan paling mesra. Segenap ingatan yang bisa kubangunkan setiap saat aku mau.</p>
<p>Kemudian sampailah kita pada <em>mangsa labuh</em>, yang ujarmu kemarau tidak, hujan pun tidak. Pagi-pagi jadi terlukai dan malam-malam jadi terkulai. Nganga dada membuat hari-hari kian berbatu. Kemesraanmu rontok seperti dedaunan yang bergelimpangan sehingga kerinduanku bagai gelandangan tak bertuan. Musim ini ngungun sekali.</p>
<p>&#8221;Apakah kau lupa padaku? Ke mana kau tersesat? <em>Mangsa labuh</em> ini hanya sebuah musim yang menjebak!&#8221;</p>
<p>&#8221;Aku sudah total berubah, tidak dan bukan yang dulu,&#8221; jawabanmu persis politisi bertelinga tebal yang tengah meliukkan lidah pada konstituennya.</p>
<p>Bila kau bukan Tuan Mimpi lagi lalu jadi apakah kau sekarang? Apakah jadi gunung, jadi laut, jadi jurang? Aku tidak percaya kau sejahat itu padaku. Kau tidak mungkin berhitam hati dan berputih mata padaku. Aku tetap meratap seperti tidak punya harga diri. Bukankah cinta tidak pernah berhitung dengan harga?</p>
<p>Sambil menangis sejadi-jadinya, aku mengitari jalan demi jalan, jalan yang itu-itu juga; tikungan demi tikungan, tikungan yang itu-itu juga; ceruk demi ceruk, ceruk yang itu-itu juga; tanjakan demi tanjakan, tanjakan yang itu-itu juga; masjid demi masjid, masjid yang itu-itu juga; sampai&#8230;</p>
<p>Sampai aku menangisi azan demi azan, azan yang itu-itu juga; harum demi harum, harum yang itu-itu juga; puisi demi puisi, puisi yang itu-itu juga; rindu demi rindu, rindu yang itu-itu juga; mimpi demi mimpi, mimpi yang itu-itu juga; sampai&#8230;</p>
<p>Sampai aku tersungkur.</p>
<p>Tidak kuhiraukan ujung-ujung pepohonan yang mendongak pongah padahal sesungguhnya mereka menderita karena terik. Mereka sudah terlalu cerdas untuk menyombongkan diri dari guncangan angin. Seperti itulah diriku yang tidak memedulikan apakah kau mencintaiku atau tidak, apakah kau merindukanku atau tidak, apakah kau mengharapkanku atau tidak. Sebab aku juga sudah terlalu cerdas untuk memanjakan lukaku karena diammu. Kau bahagia bisa membuatku begitu <em>kan</em>?</p>
<p>Aku tidak mendengar apa-apa kecuali semilir angin mengirim gema gumam dari semesta yang menato gendang telinga&#8230;</p>
<p><em>Duh, wong ganteng pepujaning ati. Mung sliramu kang tansah nglelewa. Rina klawan wengi ranane wong lagi gandrung. Among eling sira wong ganteng. Batin ora kuwawa nandang lara wuyung. Enggala paring usada mring wak mami kang lagi ngidam sari uga nandang asmara.</em></p>
<p>Hoi, sejoli mana yang akan berjodoh malam ini? Pandanganku mengabur. Aku menyesali Hou Yi yang hanya memadamkan sembilan matahari. Kenapa ia membiarkan sebiji matahari itu tetap menyala? ***</p>
<p><em>*) <strong>Lan Fang</strong></em><strong> </strong><em>, penulis prosa, puisi &amp; esai, bertempat tinggal Surabaya, novel terbarunya: Ciuman di Bawah Hujan (2010) </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1402/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1402&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/13/gandrung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100926_gandrung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100926_Gandrung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/13/maaf/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/13/maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 09:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen JP]]></category>
		<category><![CDATA[putu wijaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[M A A F Minggu, 19 September 2010 Putu Wijaya Pada hari raya Idul Fitri muncul tamu yang tak dikenal di rumahku. Aku pura-pura saja akrab, lalu menerimanya dengan ramah tamah. Terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab aku sangat berhati-hati jangan sampai kedokku terbuka. Di samping itu, diam-diam aku berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1399&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100919_maaf.jpg"><img class="size-full wp-image-1400 alignleft" title="100919_Maaf" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100919_maaf.jpg?w=230&#038;h=300" alt="" width="230" height="300" /></a><strong>M A A F</strong></p>
<p style="text-align:center;">Minggu, 19 September 2010</p>
<p style="text-align:center;"><em>Putu Wijaya</em></p>
<p>Pada hari raya Idul Fitri muncul tamu yang tak dikenal di rumahku. Aku pura-pura saja akrab, lalu menerimanya dengan ramah tamah. Terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab aku sangat berhati-hati jangan sampai kedokku terbuka. Di samping itu, diam-diam aku berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangan. Setiap bongkah aku bolak-balik, mencoba menyibak, siapa kira-kira dia, tetapi sia-sia.<span id="more-1399"></span></p>
<p>Seseorang yang mau nagih hutang yang karena satu dan lain sebab aku lupakan? Orang yang keliru menyangka aku temannya? Penipu atau orang sakit jiwa?</p>
<p>Setengah jam pertama lewat, tetapi masih tetap gelap. Cangkir teh tamu itu sudah kosong. Aku dengan berbasa-basi menawarkan apakah boleh menambah isi cangkirnya. Maksudnya untuk mengingatkan bahwa kalau itu sebuah kunjungan basa-basi sudah masanya untuk diakhirinya. Tetapi tamu itu mengangguk, ya, cangkirnya boleh diisi lagi, sekiranya tidak memberatkan.</p>
<p>Aku berseru memanggil Taksu, yang memang tidak ada di rumah. Tentu saja Taksu tidak keluar-keluar. Yang muncul adalah istriku yang sudah hendak jalan ke tetangga. Ia mengerti apa yang dimaksudkan suaminya, lalu mengangguk sopan, membawa cangkir masuk. Tetapi kemudian keluar dengan sebuah gelas penuh teh, mungkin supaya tidak perlu bolak-balik lagi. Aku membuang muka karena kecewa. Apa boleh buat sudah telanjur. Ternyata istriku juga menyodorkan setoples kacang sebelum kemudian pamit pergi ke tetangga.</p>
<p>Mau tak mau aku terpaksa memainkan kehadiran kacang itu. Ternyata dengan kacang kapri percakapan menjadi lebih renyah. Aku mulai mendapat informasi bahwa tamu itu sudah menjalani perjalanan yang panjang sebelum menemukan rumahku. Ia menyebut-nyebut kapal laut, kereta api, dan kemudian pesawat terbang. Aku lalu menduga orang itu datang dari Jakarta. Tidak ada kereta api yang sepanjang itu di pulau lain.</p>
<p>Lalu aku ingat pada beberapa kenalanku yang tinggal di Jakarta. Barangkali ini salah satu anggota keluarga Ikra atau Soegianto. Ia datang pasti karena mendapat rekomendasi dari mereka. Dengan harap-harap cemas aku menunggu kalau salah satu nama temanku itu melompat dari mulutnya. Tapi setengah jam lagi berlalu, itu tak terjadi. Tamu itu, setelah memuji kegurihan dan kerenyahan kacang yang katanya paling enak dari semua kacang yang pernah dicicipinya, ia malah banyak bertanya tentang kesehatan jasmaniku.</p>
<p>Apa aku sudah mulai punya keluhan asam urat atau darah tinggi. Mungkin diabet atau jan­tung berdebar-debar. Apa aku masih rajin olahraga orhiba. Belum punya pantangan makanan? Masih berani makan sate kambing dan duren? Bagaimana kalau kopi? Berapa kali minum kopi sehari? Dan merokok?</p>
<p>Ketika mendengar aku tidak merokok dengan penuh perhatian ia menanyakan bagaimana aku bisa menghindar dari rokok yang menjadi alat pergaulan itu. Apakah aku memang tidak merokok sejak awal, tetapi nampaknya itu mustahil, karena merokok sudah jadi identitas semua pemuda yang aktif. Jadi bagaimana caranya aku keluar dari cengkeraman rokok yang menjadi salah satu pembunuh kejam itu.</p>
<p>Aku mulai meyakini bahwa orang itu pemadat yang berusaha untuk membebaskan dirinya dari nikotin tetapi selalu gagal. Bukan karena cengkeraman nikotin itu tak bisa dihindari, tapi karena sebenarnya ia tak sungguh-sungguh ingin berhenti merokok. Ia nampak menikmati ceritanya sendiri yang selalu gagal lagi, gagal lagi bercerai dengan rokok.</p>
<p>Tiba-tiba ia menanyakan apakah aku tidak pernah merasa takut, karena sudah melakukan dosa? Bukan dosa yang dilakukan dengan sengaja tapi dosa-dosa yang tak diketahui, semacam kekhilafan atau kekurangtahuan.</p>
<p>Aku terkejut. Terpaksa lebih berhati-hati lagi menjawab. Aku mulai curiga, sehingga berusaha agar lebih banyak mendengar daripada bicara. Tapi celakanya orang itu menganggap aku sangat tertarik dan tekun mendengar. Sambil tak henti-hentinya mengunyah kacang, ia menceritakan ada beberapa tingkat dosa yang biasa dilakukan oleh manusia tanpa disadari oleh pelakunya.</p>
<p>Pertama, katanya, dosa bagi yang membiarkan perbuatan berdosa dilakukan. Seperti melihat ada pencuri. Kalau diam saja tidak berusaha menghalangi pencuri itu melakukan praktik jahanamnya merugikan orang lain, orang yang melihat itu berarti setuju dan ikut mencuri. Hukumannya sama saja.</p>
<p>Yang kedua, dosa yang tidak peduli terhadap orang-orang yang sudah melakukan dosa. Tidak pernah berusaha untuk memberikan teguran atau bimbingan agar orang yang berdosa itu sadar pada perbuatannya. Jangan-jangan pendosa itu melakukan dosanya karena tak tahu itu perbuatan dosa. Bagi yang tahu tapi membiarkan saja orang itu sesat, hukumannya sama. Orang itu berarti ikut membantu melakukan perbuatan dosa.</p>
<p>Dan, yang ketiga, dosa bagi yang tidak mau memaafkan mereka yang berdosa karena ingin menghukum agar pendosa itu kapok. Seorang yang berbuat dosa terlalu besar, mungkin sudah tertutup mata hatinya, sehingga ia tidak melihat perbuatan itu dosa. Jadi bagaimana mungkin dia akan insaf. Sementara itu, seseorang yang berbuat dosa terlalu besar, mungkin sadar perbuatannya itu tidak termaafkan. Jadi ia pasti malu datang untuk minta maaf karena ia sendiri sadar perbuatannya itu sulit dimaafkan.</p>
<p>Nah, kata tamu misterius itu, bagi yang tahu kondisi orang itu, dan membiarkannya tetap berada dalam kegelapan dosa, berarti yang bersangkutan juga berdosa. Hukumannya sama saja. Bahkan bisa lebih berat, sebab orang yang tak mengetahui dan orang yang tak berdaya itu tindakannya tidak lagi terkendali, karena ia seperti orang yang tidak berkemampuan. Sebaliknya, orang yang berdaya yang tidak punya kesulitan bertindak untuk mencegah dosa itulah yang akan menanggung dosanya.</p>
<p>Sampai di situ, aku sudah tidak bisa lagi menahan kesabaran. Kacang di toples tinggal separo. Sudah hampir tiga jam aku mendengar tamu yang tidak punya perasaan dan mungkin sinting itu, menyita waktuku. Padahal sudah dua kali aku sempat tertidur ketika ia menguraikan teori-teori tentang dosa, tetapi setiap kali aku terbangun, orang itu masih terus di situ. Makan kacang dan bicara.</p>
<p>Lalu aku putuskan hendak berdiri. Tapi dia lebih cepat bangkit dan menahan aku di tempat duduk. Tidak, katanya, sudah cukup kunjungan saya kali ini. Terima kasih atas penerimaan Pak Amat yang begitu baik, sekarang saya mau melanjutkan perjalanan lagi, katanya sambil menangkap tanganku. Aku tak sampai hati mengelakkan tangan, apalagi ketika orang itu mencium tanganku, lalu bergegas pergi.</p>
<p>Aku tetap duduk di kursi, tak sudi mengantarkan, untuk menunjukkan rasa kesal. Ketika istriku pulang, ia terkejut melihat suaminya bengong di kursi seperti ketika ia tinggalkan tiga jam yang lalu.</p>
<p>&#8221;Kenapa Pak? <em>Kok</em> dari tadi bengong melulu. <em>Masak</em> makan kacang sampai setengah toples, nanti bibirnya <em>lumpangan</em> <em>lho</em>. Mau minum lagi?&#8221;</p>
<p>Aku terkesima. Tiba-tiba aku sadar siapa yang tadi bertamu.</p>
<p>&#8221;Ayo Bu, kita ke rumah Pak Bimantoro untuk mengucapkan selamat hari raya!&#8221;</p>
<p>Istriku tercengang.</p>
<p>&#8221;<em>Lho</em>, bukannya dia musuh kita yang sudah memfitnah Bapak korupsi uang warga yang mau dipakai untuk membangun sekolah?&#8221;</p>
<p>&#8221;Betul. Dan sekarang sudah terbukti itu bohong! Dia pasti malu besar. Dia orang berpendidikan tinggi, pasti dia tidak akan berani minta maaf karena ia tahu fitnahnya yang kejam itu sukar dimaafkan. Kita ke sana saja, jangan biarkan dia berdosa. Sekarang, mumpung masih siang.&#8221;</p>
<p>Aku cepat mengganti baju dan sandal.</p>
<p>&#8221;Ayo Bu!&#8221;</p>
<p>Istriku tak membantah, hanya penasaran.</p>
<p>&#8221;Kenapa Bapak jadi berubah pikiran? Bukannya Bapak yang kemarin mati-matian menolak keras waktu diajak untuk silaturahmi maaf-maafan ke situ?&#8221;</p>
<p>&#8221;Ya. Tapi tadi aku kedatangan tamu. Dia bilang tolonglah orang yang tidak berani mengakui dosanya, supaya berkurang dosanya dan supaya aku sendiri tidak berdosa karena sudah membiarkan orang terus berdosa. Ayo Bu!&#8221;</p>
<p>Istriku tambah heran.</p>
<p>&#8221;Tamu siapa? Memang tadi ada tamu?&#8221;</p>
<p>&#8221;Sudah, <em>kok</em> ngomong terus. Ayo cepet! Nanti keburu malam.&#8221;</p>
<p>Dalam perjalanan, istriku terus bertanya-tanya. Apa yang sudah menyebabkan aku berbalik pikiran. Menurut dia, sudah betul apa yang aku putuskan. Menurut istriku, orang kaya itu adalah teroris yang berbuat seenak perutnya sendiri saja. Tanpa punya bukti dia dengan seenak perutnya main tuduh mengatakan aku sudah makan uang warga. Dan itu menyangkut nilai sampai setengah miliar. Padahal uang itu tidak hilang, tapi dipinjamkan oleh bendahara pada warga yang memerlukan atas persetujuan panitia pembangunan sekolah itu sendiri. Dan orang kaya itu termasuk anggotanya, tapi tidak pernah hadir dalam rapat. Belum apa-apa ia sudah mengundang wartawan dan berkoar-koar. Maksudnya jelas, ingin menarik simpati masyarakat karena ia ingin terpilih menjadi caleg. Akibatnya masyarakat marah. Hampir saja ia didemo. Tapi atas kesalahannya itu ia sama sekali tidak merasa bersalah. Malah menuduh warga yang berusaha memfitnah dia. Dia berkoar-koar lagi di mana-mana mengatakan sudah diacuhin warga.</p>
<p>&#8221;Sekarang bukannya minta maaf, dia malah bikin rumahnya <em>open house</em>, supaya kita semua <em>rame-rame</em> datang ke situ maaf-maafan, seakan-akan kita semua yang salah. Itu <em>kan</em> memutar balik soal. <em>Ngapain</em> kita meladeni orang yang sesoprenia?&#8221;</p>
<p>&#8221;Untuk menunjukkan bahwa kita berjiwa besar?&#8221;</p>
<p>&#8221;Ah itu namanya jiwa kecil. Seperti kita semua ngiler mau makan enak dan ambil bungkusan, paling juga dia dapat dari sponsor!&#8221;</p>
<p>&#8221;Bungkusan apa?&#8221;</p>
<p>&#8221;Aku baru datang dari rumah tetangga yang barusan ke sana. Tiap orang yang datang ke situ pulangnya <em>dibawaain</em> tas plastik berisi suvenir.Tahu apa isi tas itu? Barang-barang contoh rokok, sampo, sabun, ciki-ciki racun, dan paket mie baru yang pasti dia dapat dari sponsor!&#8221;</p>
<p>Aku terkejut. Tapi kami sudah ada di depan rumahnya. Mau membatalkan tidak bisa karena penyambut tamu mempersilakan kami masuk. Silakan masuk, silakan masuk, Pak. Sebentar lagi akan ditutup.</p>
<p>Ternyata di dalam rumah sepi. Mungkin tidak ada yang sudi datang. Hanya aku dan istriku. Mau balik langkah, sudah telanjur masuk. Terpaksa dilanjutkan. Muka istriku sudah mulai masam. Aku mencoba berjiwa besar.</p>
<p>&#8221;Sabar. Niat kita datang kemari baik, jangan kita rusak dengan perasaan negatif. Ini hari untuk saling memaafkan.&#8221;</p>
<p>&#8221;Silakan Pak, Ibu. Apa sopnya mau dipanasin dulu?&#8221;</p>
<p>&#8221;Tidak usah, tidak usah.&#8221;</p>
<p>Istriku tidak mau makan. Tapi piring sudah diulurkan. Terpakasa aku terima. Makanan begitu berlimpahan, mewah dari catering kelas satu. Aku merasakannya sebagai semacam penghinaan kepada kemiskinan yang berserakan di mana-mana. Kenapa kenikmatan itu diumbar dalam rumah itu, tidak dibagikan saja kepada mereka yang lebih membutuhkan?</p>
<p>Pelayan yang meladeni kami menghampiri.</p>
<p>&#8221;Silakan Bapak dan Ibu, yang santai saja. Kalau nanti ada yang mau dibawa pulang, pesan Ibu mangga, kotak plastiknya ada di atas meja itu. Atau perlu saya bantu.&#8221;</p>
<p>Aku tak menjawab, hanya senyum-senyum. Tapi istriku melabrak dengan sinis.</p>
<p>&#8221;Terima kasih. Tapi tuan rumahnya ke mana <em>kok nggak nongol</em>?&#8221;</p>
<p>Pelayan itu tersenyum.</p>
<p>&#8221;O ya, Bu. Bapak dan Ibu minta maaf, keluar sebentar untuk bersilaturahmi karena sudah seharian di rumah. Tapi sebentar lagi beliau akan datang. Silakan menunggu sebentar.&#8221;</p>
<p>Sebentar apaan, ini sudah satu jam, bentak istriku. <em>Ngapain</em> kita kemari? Darahnya sudah mulai naik. Aku setuju, kunjungan dengan niat suci dan luhur itu ternyata sebuah kesalahan.</p>
<p>Kemudian ada dua tetangga yang memang punya reputasi tukang jilat muncul. Mereka heran melihat kami. Setelah basa-basi, mereka langsung mengganyang makanan. Kemudian membungkusnya, lebih banyak dari yang sudah mereka makan. Lalu cepat-cepat permisi dengan alasan akan bersilaturahmi pada yang lain.</p>
<p>Istriku langsung mau ikutan. Aku berkeras menahan.</p>
<p>&#8221;Kedatangan kita kemari mau menunjukkan kepada dia bahwa meskipun kita sebenarnya yang pantas dimintai maaf, tapi kita sudah datang kemari karena dia sendiri tidak punya nyali untuk minta maaf. Ini sebuah pembelajaran moral kepada dia!&#8221;</p>
<p>Tapi setengah jam kemudian, ketika tuan rumah belum juga nongol, akhirnya kami pergi diam-diam. Begitu pelayannya menyelinap ke belakang, kami buru-buru kabur.</p>
<p>&#8221;Alhamdulillah!&#8221; kata istriku lega, seperti lepas dari tekanan batin, &#8220;meskipun di situ makanannya enak-enak, diupah juga aku tidak mau masuk lagi. Ini penghinaan! Bapak terlalu lembek, mau mau datang. Dia akan tambah sombong sekarang. Lihat, <em>nggak</em> ada orang yang datang ke situ, karena semua punya harga diri. Kita saja yang coba-coba datang karena jiwa kita yang besar, akhirnya dihina seperti ini!&#8221;</p>
<p>Aku tak menjawab, karena setuju. Tapi karena aku setuju, istriku justru tambah marah lagi. Sepanjang jalan dia terus marah.</p>
<p>&#8221;Orang kaya tidak pernah peduli apalagi mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada orang lain. Dia tidak akan mau melihat kesalahannya, karena matanya sudah penuh berisi tuduhan-tuduhan yang mengatakan kita yang salah. Tidak akan ada pikiran malu, apalagi mau minta maaf sama kita. Dia pikir dengan uangnya itu, semua bisa diatur. Dan memang bisa. Lihat itu penjilat-penjilatnya yang datang tadi. Mereka menyangka kita ini mau ikut-ikutan menjilat. Malu!&#8221;</p>
<p>Begitu sampai di teras rumah, aku tidak tahan lagi. Aku banting kantong plastik itu ke meja. Isinya terburai berserakan. Belum puas, aku tendangi lagi isinya. Mie, rokok, permen, dan ciki-ciki racun hancur berantakan. Salah satunya tertendang masuk ke pintu depan yang terbuka.</p>
<p>Tiba-tiba anakku Taksu muncul.</p>
<p>&#8221;Pak dari mana <em>aja</em>?&#8221;</p>
<p>&#8221;Bapak kamu baru saja membuktikan kekonyolannya!&#8221;</p>
<p>&#8221;O ya? Tumben!&#8221;</p>
<p>&#8221;Habis sudah aku dipermalukan.&#8221;</p>
<p>&#8221;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8221;Bapak kamu mau menolong bangsat yang tidak berani datang minta maaf karena keder lantaran dosanya sudah kelewatan itu, eh <em>nggak</em> tahunya masuk perangkap dan dipermalukan habis. Rumahnya kosong!&#8221;</p>
<p>&#8221;Siapa?&#8221;</p>
<p>&#8221;Setan kaya yang&#8230;&#8221;</p>
<p>Taksu mengangkat tangan sambil memotong.</p>
<p>&#8221;Bapak sudah ditunggu tiga jam.&#8221;</p>
<p>&#8221;Ditunggu? <em>Ngapain</em>, <em>kan</em> Bapak silahturahmi?&#8221;</p>
<p>&#8221;<em>Udah tak bilangin</em> begitu, tapi di sitiunya ngotot mau <em>nungguin</em>!&#8221;</p>
<p>&#8221;Siapa <em>sih</em>?&#8221;</p>
<p>&#8221;Saya Pak.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba di depan pintu muncul orang kaya itu.</p>
<p>Darahku tersirap. Di belakangnya muncul istri dan kelima anaknya. Sekeluarga lengkap. Aku bengong. Sementara aku ke rumahnya dan menunggu sambil memaki-maki, rupanya dia sekeluarga datang dan menunggu dengan sabar hanya untuk minta maaf.</p>
<p>Orang kaya yang barusan aku maki-maki itu mendekat, langsung menjabat tanganku erat. Minta maaf atas segala kesalahannya dan memeluk. Istrinya menyusul. Lalu anak-anaknya satu per satu mencium tanganku dengan hormat, pasti sudah diberi instruksi orang tuanya.</p>
<p>Wajah istriku meledak gembira. Sumpah serapahnya kontan senyap. Apalagi kemudian para tetangga keluar dari rumahnya, menyaksikan silaturahmi itu dan sekalian ikut salam-salaman. Taksu diam-diam dengan gesit mengumpulkan suvenir yang berceceran di mana-mana itu lalu melenyapkannya ke belakang. Hari itu menjadi hari perdamaian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Ya Tuhan, alangkah mudahnya seluruh rasa benci dan permusuhan itu diselesaikan oleh hari raya. Bayangkan kalau hari yang begitu perkasanya menendang semua permusuhan yang setahun mapat, tak ada? Boleh jadi lebih banyak lagi baku hantam di dunia yang haus darah ini. Hari raya adalah mahakarya. Aku memejamkan mata dan bersyukur.</p>
<p>Waktu itu, tamu itu kembali. Ia menjatuhkan badannya di kursi sebelum sempat aku tegur.</p>
<p>&#8221;Aku tak bisa menemukan alamatnya,&#8221; katanya sembari memejamkan matanya yang lelah, &#8221;Mungkiin dia sudah pindah atau sudah tak ada. Bagaimana kalau aku nginap saja di sini?&#8221;</p>
<p>Begitu selesai ngomong dia sudah mendengkur pulas. Aku terkesima. Kutunggu beberapa saat, barangkali dia tersentak bangun dan tentu saja lebih baik pergi, karena sudah larut malam. Tapi dadanya turun naik teratur. Ia sudah jauh. Kucium rasa lelah yang kental meruap dari tubuhnya, tanda sudah menjelajah perjalanan maraton.</p>
<p>&#8221;Sudah larut, kendaraan yang terakhir akan berangkat,&#8221; bisikku.</p>
<p>Tapi ia sama sekali tak berkutik. Kemudian istriku keluar dari dalam rumah menegur.</p>
<p>&#8221;Tidur Pak, sudah malam.&#8221;</p>
<p>&#8221;Ya sebentar lagi.&#8221;</p>
<p>&#8221;Jangan pakai sebentar lagi. Angin malam merusak paru-paru, ayo!&#8221;</p>
<p>Dengan berat hati aku berdiri.</p>
<p>&#8221;Ayo!&#8221;</p>
<p>&#8221;Ya, ya! Tapi dia bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8221;Apa?&#8221;</p>
<p>&#8221;Nggak!&#8221;</p>
<p>Istriku tidak mau pergi sebelum aku benar-benar masuk. Setelah itu dia menutup pintu dan menguncinya. Dalam hati aku berkata: meskipun kita tidur bersama setiap malam selama bertahun-tahun, tapi yang ini tidak akan kamu mengerti, Sayang.</p>
<p>Tetapi tiba-tiba istriku nyeletuk.</p>
<p>&#8221;Aku kawin hanya dengan satu laki-laki!&#8221;</p>
<p>Aku terpaku. Siapa bilang perempuan tidak mengerti, hanya tidak semua yang mereka katakan. <strong>***</strong></p>
<p><em>Jakarta, 27 Agustus 2010 </em></p>
<p><strong>Oleh Putu Wijaya </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1399/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1399&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/13/maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100919_maaf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100919_Maaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setengah Restu</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/10/setengah-restu/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/10/setengah-restu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 10:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen JP]]></category>
		<category><![CDATA[ida ahdia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1395</guid>
		<description><![CDATA[Setengah Restu Minggu, 12 September 2010 Ida Ahdiah Pandan menghentikan mobil di tepi persawahan yang sambung-menyambung hingga menyentuh kaki bukit yang berjajar memagari kampung-kampung kecil. Dari kejauhan tampak asap mengepul dari bakaran jerami kering sisa panen. Aromanya mengapung di udara, mengingatkan Pandan pada aroma merang bakar yang dulu digunakan Ibu untuk membersihkan rambutnya yang panjang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1395&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100912_setengah-restu.jpg"><img class="size-full wp-image-1396 alignleft" title="100912_Setengah Restu" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100912_setengah-restu.jpg?w=237&#038;h=300" alt="" width="237" height="300" /></a><strong>Setengah Restu</strong></p>
<p style="text-align:center;">Minggu, 12 September 2010</p>
<p style="text-align:center;"><em>Ida Ahdiah</em></p>
<p>Pandan menghentikan mobil di tepi persawahan yang sambung-menyambung hingga menyentuh kaki bukit yang berjajar memagari kampung-kampung kecil. Dari kejauhan tampak asap mengepul dari bakaran jerami kering sisa panen. Aromanya mengapung di udara, mengingatkan Pandan pada aroma merang bakar yang dulu digunakan Ibu untuk membersihkan rambutnya yang panjang, merapat melewati pinggul. Semasa kecil dulu, Pandan paling suka menciumi rambut Ibu sehabis keramas, membelitkannya di leher, membuatnya geli sendiri. Kemudian Ibu akan meminta ia membantu menyisir rambut dari belakang.<span id="more-1395"></span></p>
<p>Tinggal beberapa menit lagi ia akan tiba di rumah masa kecilnya. Tapi Pandan ragu melanjutkan perjalanan. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Ibu. Apa reaksi Ibu jika ia tetap pada keputusannya? Mungkinkah hati Ibu melunak, mengeras, dan mereka bertengkar lagi? Firman, kakaknya, hanya mengatakan, sebaiknya Lebaran ini ia pulang. Kelihatannya Ibu rindu padamu. Berita itu menggembirakan sekaligus mengagetkannya. Ia mengira, tak akan lagi punya kesempatan menghirup aroma jerami bakar, dari sawah yang habis dipanen.</p>
<p>Dari tempatnya berdiri Pandan menyaksikan senja turun menjadi malam. Listrik di rumah-rumah penduduk sudah menyala. Barisan bukit kini tampak seperti jejeran patung raksasa. Dadanya serasa sesak ketika terdengar azan magrib dari masjid yang berdiri di tepi jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Suara itu mengaduk-aduk perasaannya, membuatnya jadi sentimental. Diraihnya botol air mineral dari mobil dan diteguknya untuk berbuka. Ia seka mata segera ketika merasakan ada genangan air di sana.</p>
<p>Pandan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang.</p>
<p>Di balik kemudi ia mencoba membayangkan wajah Rusmini, ibunya, perempuan berwajah bulat dengan sorot mata tegas. Ia senang mengenakan kebaya, yang membuatnya tampil anggun dan berwibawa. Ibu pernah dua kali jadi kepada desa yang dipilih langsung oleh rakyat dengan kemenangan mutlak. Saat itu belum ada ketentuan seorang lurah hanya boleh memangku jabatan dua periode. Ia tercatat sebagai lurah perempuan pertama dan terlama di kabupaten.</p>
<p>Rusmini adalah lurah yang dicintai rakyat karena menjalankan amanah dengan benar. Bersama petani ia membangun koperasi unit desa (KUD) hingga petani bisa mengelola sawah dan palawija dan menjual hasilnya dengan harga lumayan. Irigasi untuk mengairi sawah dibangun secara gotong-royong. Gerakan menanam pohon mangga di tepi jalan berlangsung sukses. Hingga kini kampung itu terkenal sebagai penghasil mangga dan manisan mangga. Kedua putranya, Firman dan Pandan, juga berhasil menyelesaikan sarjana di perguruan tinggi negeri terpandang, di kota provinsi.</p>
<p>Sungguh menggegerkan ketika setahun lalu, Rusmini, yang masih dipanggil Ibu Lurah oleh masyarakat sekitar, meminta putri bungsunya, pergi dari rumah untuk selamanya. Berita itu menyebar diam-diam dan menjadi pembicaraan penduduk di sawah, ladang, dan di pasar.</p>
<p>Awalnya mereka mengira, Pandan diusir karena hamil di luar nikah dengan pacarnya. Berita itu ternyata tidak benar. Pandan tidak hamil. Ia memang pacaran dengan Helmi, sarjana administrasi negara cicit dari pensiunan TNI. Yang benar adalah Rusmini mengusir Pandan karena ia memaksa menikah dengan Helmi, padahal Rusmini tidak setuju. Para orang tua yang mengetahui perjalanan hidup Rusmini, memaklumi tindakan itu. Tapi bagi generasi muda pengusiran itu mengurangi rasa hormat dan kagumnya pada Rusmini.</p>
<p>Ibu pernah mengatakan pada Pandan jika ia menyukai Helmi secara pribadi meski ia benci pada keluarganya dan kalau mungkin tak mau berbesanan dengan mereka. Namun Pandan mengira Ibu tidak serius mengatakannya. Sebab setahu Pandan, Ibu yang dikenalnya sangatlah terbuka dan pemaaf. Apalagi peristiwa itu sudah lama terjadi.</p>
<p>Ibu adalah cucu Ki Reksa. Eyang buyut Pandan itu adalah anggota kelompok gerilya yang di awal kemerdekaan ingin mendirikan negara selain Republik Indonesia. Gerakan gerombolan terlarang yang bergerak antara lain di Aceh dan Jawa Barat itu ditumpas habis oleh tentara. Pemimpinnya tertangkap di sebuah gunung dan dihukum mati.</p>
<p>&#8221;Kakek buyut si Helmi itu adalah komandan penumpas gerombolan, yang membunuh kakek buyutmu,&#8221; tegas Ibu.</p>
<p>Pandan limbung mendengarnya.</p>
<p>Setelah peristiwa itu Ibu merasakan kehidupan yang sulit. Anak-anak dilarang orang tuanya berteman dengannya, yang waktu itu berusia SD, karena takut dicap mendukung ideologi tersebut. Bahkan gara-gara itu kakek dan nenek alias orang tua Ibu bercerai. Keluarga kakek tak mau disangkut-sangkutkan dengan kelompok yang dianggap pengacau.</p>
<p>&#8221;Beruntung nenek perempuan tangguh yang tak menyerah pada keadaan. Dengan segala keterbatasan ia berjuang, menghidupi Ibu agar bisa sekolah dan bisa seperti sekarang,&#8221; tutur Ibu.</p>
<p>Ingatan orang tentang gerombolan itu memang tidak mendalam, karena masanya pendek dan cepat ditumpas. Selanjutnya Ibu pun bisa menjalani kehidupan seperti biasa dan masuk sekolah bahkan menjadi lurah tanpa perlu membawa surat keterangan bersih diri. Jadi, Pandan berpendapat, Ibu tak seharusnya menyimpan dendam sedalam dan selama itu.</p>
<p>Pandan pernah bertanya, &#8221;Ibu yakin kakek buyut Helmi yang menembak?&#8221;</p>
<p>&#8221;Yang pasti dia memerintahkan untuk menumpas, membunuh&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8221;Yang ditumpas tak hanya eyang buyut. Lagi pula dia hanya menjalankan tugas.&#8221;</p>
<p>&#8221;Buyutmu juga menjalankan ideologinya.&#8221;</p>
<p>Sampai di situ Pandan diam. Jujur saja ia sulit merasakan dendam seperti yang dirasakan oleh Ibu. Peristiwa itu terjadi jauh sebelum ia lahir, di awal kemerdekaan. Ia tak merasakan perjuangan merebut kemerdekaan yang diikuti pertikaian ideologi dan seterusnya. Ia lahir di masa Orde Baru dan berusia 13 tahun ketika Orde Baru tumbang. Masa dewasanya dilalui di alam yang sudah lebih demokratis dengan me­milih presiden secara langsung.</p>
<p>&#8221;Saya tahu Ibu tak bisa melupakan peristiwa itu. Tapi tolong beri tahu saya bagaimana membuat Ibu mengerti jika saya dan Helmi saling mencintai dan ingin menikah dan meminta restumu.&#8221;</p>
<p>&#8221;Bagaimana aku mengizinkan putriku menikah dengan seorang lelaki yang leluhurnya membunuh eyang buyutmu!&#8221;</p>
<p>&#8221;Bu, jangan ulangi kata-kata itu terus-menerus&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8221;Tidak. Ibu tidak memberimu restu menikah dengan Helmi. Banyak lelaki lain selain Helmi.&#8221;</p>
<p>&#8221;Banyak lelaki selain Ayah, mengapa Ibu memilih Ayah&#8230;&#8221;</p>
<p>Nafas Ibu tampak tersengal-sengal, menahan amarah.</p>
<p>&#8221;Saya akan tetap menikah dengan Helmi,&#8221; lanjut Pandan yang tak kalah emosi. &#8221;Dengan atau tanpa restu Ibu. Ibu egois, pendendam, dan ternyata sangat tidak demokratis&#8230;&#8221;</p>
<p>Ibu mengangkat kepala dan telunjuk tangan kirinya seraya berkata, &#8221;Apa pun pendapatmu tentang Ibu, hanya ada dua pilihan, tinggalkan Helmi dan tetap jadi anakku atau menikah dengan Helmi dan pergi dari rumah ini.&#8221;</p>
<p>Pandan semakin tersinggung dan marah dengan sikap Ibu yang dianggapnya semena-mena, menghancurkan kebahagiaannya, menyepelekan perasaannya. Ia pun melangkah meninggalkan Ibu, berniat mencari angin, meredakan emosinya di halaman rumah.</p>
<p>&#8221;Setelah keluar dari pintu itu, kularang kau memasukinya kembali&#8230;&#8221; Ibu yang tengah dilanda emosi membuat kata-katanya menjadi tidak terkendali.</p>
<p>Mendengar itu, Pandan menghentikan langkah, menoleh ke arah Ibu yang sedang berdiri meremas-remas jarinya. Keduanya bertatapan. Ibu kemudian melunakkan pandangannya. Melonggarkan ketegangan di wajahnya. Ia melambaikan tangan, meminta Pandan mendekat. Tapi Pandan memilih untuk keluar tanpa menutup pintu. Jika saat itu ayahnya masih hidup, tentu ia akan membela, mengejar, dan mencegahnya pergi. Ia meninggal di tanah suci saat pergi bersama Ibu.</p>
<p>Di luar rumah Pandan mendengar Ibu memperbaiki ucapannya, &#8221;Rumah ini masih terbuka jika kau berubah pikiran&#8230;&#8221;</p>
<p>Emosi telanjur menguasai Pandan. Tanpa membawa apa-apa Pandan pergi dari rumah dan tak pernah pulang. Sebetulnya sejak kuliah ia tinggal di kota lain dan hanya pulang di saat liburan. Saat itu pun ia sudah bekerja di kota tempatnya kuliah.</p>
<p>Tapi rumah adalah rumah di mana kenangan masa kecil berserakan yang membuatnya kerap ingin pulang. Semasa kuliah dulu, tiap libur ia pulang agar bisa menikmati aroma masakan dari dapur yang sangat khas dan kipasan angin siang yang berasal dari gesekan daun nangka yang kerap membuatnya tertidur di kursi rotan panjang, di teras depan. Lebih dari yang lain Pandan rindu pada Ibu, yang tinggal di rumah hanya ditemani Bi Siti. Kakaknya, Firman dan keluarga, tinggal di lain kota.</p>
<p>Kini Pandan sudah menghentikan mobil di depan rumah. Gelap sudah merata. Ia melihat kursi rotan panjang masih ada di teras depan. Cat rumah masih sama seperti setahun yang lalu. Pot-pot tanaman gelombang cinta yang menjulang tinggi masih berada di tempatnya. Pohon nangka ramping itu seperti biasa berbuah banyak dan besar-besar.</p>
<p>Ia berdiri terpaku ketika hendak membuka pintu. Ibu sudah lebih dulu membukanya dari dalam. Pandan mencium tangan Ibu. Ibu memeluk dan mengusap-usap rambutnya.</p>
<p>&#8221;Bi Siti membuat kolak pisang dan kolang-kaling dengan gula aren kegemaranmu,&#8221; Ibu membimbingnya ke meja makan.</p>
<p>&#8221;Apa kabar, Ibu?&#8221; Pandan meneliti wajah Ibu sambil menyuap kolak dengan sendok.</p>
<p>&#8221;Kabar baik. Ibu senang akhirnya kau pulang&#8230;&#8221;</p>
<p>Pandan ingin mengatakan bahwa kepulangannya sama sekali tak ada kaitannya dengan mematuhi keinginan Ibu untuk tidak menikah dengan Helmi. Tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Ibu, Pandan merencanakan akan menikah tanpa restu Ibu sekalipun. Ia akan meminta Firman jadi wali, menikahkannya, usai Lebaran. Tapi ia coba menahan diri untuk tidak mengatakannya.</p>
<p>&#8221;Ibu tahu kau masih berhubungan dengan Helmi.&#8221;</p>
<p>Dalam hati Pandan berharap Ibu tak membicarakan itu dulu hingga ia selesai buka puasa, selesai menikmati rumah dengan segala kenangannya. Tapi rupanya Ibu sudah tidak sabar.</p>
<p>&#8221;Ibu tahu kalian tak terpisahkan. Kalian ingin menikah. Ibu merasa berdosa jika memisahkanmu karena cerita masa lalu yang kalian tidak tahu, yang sulit kalian mengerti.&#8221;</p>
<p>Pandan masih diam. Ia mencoba menebak-nebak ke mana arah pembicaraan Ibu.</p>
<p>&#8221;Ibu senang kalau kalian bisa menikah di malam Lebaran.&#8221;</p>
<p>Pandan mengerutkan dahi mendengar permintaan Ibu.</p>
<p>&#8221;Minta keluarga Helmi datang meminangmu, segera.&#8221; Sambil mengatakan itu Ibu melemparkan pandangannya ke lantai. Ia berupaya menyembunyikan perasaannya.</p>
<p>&#8221;Apakah tidak tergesa-gesa?&#8221; Pandan bertanya hati-hati. Ia merasa Ibu memutuskan itu dengan terpaksa.</p>
<p>&#8221;Terserah kalian, mau menikah cepat atau tidak.&#8221;</p>
<p>&#8221;Baik, Ibu, saya akan telepon Helmi mengabari rencana ini.&#8221;</p>
<p>&#8221;Beri tahu Ibu pembicaraanmu dengan Helmi agar Ibu bisa bersiap-siap.&#8221;</p>
<p>&#8221;Ibu, ada apa? Semuanya begitu tiba-tiba&#8230;&#8221; Pandan tak tahan untuk tidak bertanya.</p>
<p>&#8221;Ibu menyayangimu, Nak&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8221;Saya tidak pernah meragukan itu.&#8221;</p>
<p>&#8221;Ibu tak ingin menunda-nunda kebahagiaanmu.&#8221;</p>
<p>&#8221;Saya bahagia karena akhirnya Ibu memberi saya restu menikah dengan Helmi.&#8221;</p>
<p>&#8221;Tapi Ibu tak akan menggelar pesta perkawinan untukmu.&#8221;</p>
<p>&#8221;Restu Ibu sudah cukup buat saya.&#8221;</p>
<p>Ibu menggeleng-gelengkan kepala. &#8221;Bukan karena Ibu tak memiliki uang.&#8221;</p>
<p>Pandan tak ingin menyela.</p>
<p>&#8221;Ibu belum bisa menghilangkan sakit hati itu.&#8221;</p>
<p>Pandan mencoba mengerti.</p>
<p>&#8221;Ibu berjanji akan membuat pesta pernikahan saat hati ini sudah bersih dari rasa dendam&#8230;&#8221;</p>
<p>Pandan tidak ingin mendebat kejujuran Ibu tentang perasaannya yang terbelah, cintanya pada anak dan bencinya pada keluarga calon menantunya. Ia yakin Ibu tengah berupaya keras menghapus kenangan pahit itu dengan memberinya setengah restu. Pandan berdoa, semoga malam Lebaran nanti memberi Ibu keajaiban, dendamnya mengelupas, tak berbekas. ***</p>
<p><strong><em>*) Ida Ahdiah, pengarang yang lama tinggal di Kanada</em> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1395&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/10/setengah-restu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/100912_setengah-restu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100912_Setengah Restu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Z</title>
		<link>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/01/z/</link>
		<comments>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/01/z/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 12:23:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>copiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa KOMPAS]]></category>
		<category><![CDATA[kasijanto sastrodinomo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://copiyan.wordpress.com/?p=1387</guid>
		<description><![CDATA[Z Jumat, 1 Oktober 2010 &#124; 02:46 WIB KASIJANTO SASTRODINOMO Pusat Bahasa mengukuhkan ejaan kata serapan dari bahasa asing yang berawal atau berunsur huruf z tetap ditulis atau diucapkan seperti adanya. Jadi, zenith, zirconium, dan zodiac disurat zenit, zirkonium, dan zodiak dalam ejaan Indonesia. Ada 184 kata berawal z yang dientri dalam Kamus Besar Bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1387&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/101001_z1.jpeg"><img class="size-full wp-image-1389 alignleft" title="101001_Z" src="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/101001_z1.jpeg?w=234&#038;h=175" alt="" width="234" height="175" /></a>Z</strong></p>
<p style="text-align:center;">Jumat, 1 Oktober 2010 | 02:46 WIB</p>
<p style="text-align:center;">KASIJANTO SASTRODINOMO</p>
<p>Pusat Bahasa mengukuhkan ejaan kata serapan dari bahasa asing yang berawal atau berunsur huruf z tetap ditulis atau diucapkan seperti adanya. Jadi, zenith, zirconium, dan zodiac disurat zenit, zirkonium, dan zodiak dalam ejaan Indonesia. Ada 184 kata berawal z yang dientri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, jauh lebih gendut ketimbang edisi sebelumnya yang hanya 82 kata. Suatu pengembangan materi kosakata yang layak diacungi jempol.<span id="more-1387"></span></p>
<p>Dalam praktik berbahasa biasa muncul varian: z tak selalu tertulis atau terucap seturut patokan Pusat Bahasa. Pada sebagian penutur bahasa Jawa, misalnya, huruf itu menjelma berbagai wujud seperti j yang terdekat, atau d dan s. Faktor objektifnya cukup jelas: aksara Jawa tak mengenal z. Barulah ketika budaya luar berdatangan, terutama dari Arab dan Belanda, huruf itu ikut masuk. Maka, zaman jadi jaman seperti jaman edan yang tertulis dalam risalah ramalan Ranggawarsita. Zonder yang Belanda berubah sonder. Kelompok musik cadas memilih nama jamrud alih-alih zamrud. Seorang teman meminjam horijon. Yang dia maksud adalah majalah Horison, atau horizon menurut KBBI.</p>
<p>Ejaan Arab dz juga jadi medok dalam ucapan Jawa. Kata dzikir atau zikir dalam KBBI, misalnya, jadi dikir atau jikir. Demikian pula adzan bersulih adan atau ajan. Sebutan salat wajib tengah hari, zuhur atau dhuhur (Arab), pun sering terucapkan juhur dan makin menjauh jadi lohor ketika dijawakan. Kemudian nama bulan Arab Dzulqa’dah atau Zulkaidah pada KBBI dibunyikan Dulkangidah dalam penanggalan Jawa. Beberapa contoh acak perubahan aksara dan bunyi tersebut menunjukkan semacam domestikasi z dalam pengucapan Jawa, bahkan mungkin juga dalam bahasa daerah yang lain di Indonesia.</p>
<p>Namun, lafaz z tak boleh ditawar dalam pembacaan teks Alquran demi ketepatan makna. Itu sebabnya para pelantun ayat-ayat suci Alquran yang tekun—kaum santri contohnya—sangat fasih mengucapkan z. Penggunaan kata rizki sebagai nama diri menyiratkan penganggitnya lebih Islami dan sadar bagaimana harus mengeja nama itu. Sementara, (sri) rejeki mungkin jadi preferensi kaum ”priayi abangan” mengikuti kategorisasi Clifford Geertz. Mungkinkah pilihan atas z juga bertemali dengan kecenderungan linguistik di antara golongan sosial di Jawa model itu? Geertz luput mengamatinya.</p>
<p>Hampir semua kata berawal z pada KBBI merupakan serapan dari kata asing, terutama Arab, Belanda, Inggris, dan beberapa istilah teknis ilmiah dalam ilmu pengetahuan alam. Cukup sulit kita temukan kata berhuruf Latin terakhir itu yang ”asli” dalam khazanah bahasa Indonesia. Mungkin hanya komikus dan karikaturis yang berhasil memanfaatkan z secara tepat untuk mendeskripsikan orang tidur nyenyak: Zzzzz. Makin banyak z yang dijejerkan, makin lelap tidur orang yang digambarkan itu.</p>
<p>Tiba-tiba saya teringat akan Asmuni (almarhum), pelucu senior kelompok sandiwara Srimulat. Dalam aksi panggungnya sebagai pembantu rumah tangga, dia biasa bertanya kepada tamu yang datang, ”Mau minum susu atau zuzu?” Apa bedanya? Yang pertama cuèr, sedangkan yang kedua kenthel.</p>
<p><strong><em>KASIJANTO SASTRODINOMO</em></strong><em> Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/copiyan.wordpress.com/1387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/copiyan.wordpress.com/1387/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=copiyan.wordpress.com&amp;blog=10462836&amp;post=1387&amp;subd=copiyan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-rating-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://copiyan.wordpress.com/2010/10/01/z/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5d323b50c2f55db05eaa05294f8aa9b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">copiyan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://copiyan.files.wordpress.com/2010/10/101001_z1.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">101001_Z</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
