Musik Cadas?
Kompas : Jumat, 5 November 2010 | 05:31 WIB
SAMSUDIN BERLIAN
Ada saja yang mengindonesiakan jenis musik yang dalam bahasa Inggris disebut rock atau rock and roll dengan istilah musik cadas. Sampai ada di Facebook segala. Malah kabarnya di Surabaya ada sekolah bernama begitu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, cadas hanya berarti ”batu”, tapi dalam lema musik ada sublema musik cadas yang diartikan ”musik keras”. Entah apa maksud definisi konyol ini. Barangkali musik gamelan atau keroncong yang disetel dengan volume pol.
Dalam bahasa Inggris, rock punya banyak arti. Ada dua kelompok makna utama. Yang satu berkaitan dengan kata benda batu. Yang lain dengan kata kerja goyang. Kata benda rock ”batu” berasal dari kata Perancis Kuno rocque, sedangkan kata kerja rock ”goyang” dari kata Inggris Kuno roccian. Yang penting di sini adalah bahwa makna musikal kata itu hanya berkait dengan rock ”goyang”.
Kata kerja rock berarti menimang-nimang [bayi] dengan lembut supaya tenang atau tertidur. Bahkan, angin dan laut yang membuai berayun-ayun bisa pula nge-rock dalam arti ini. Ia juga berarti bergerak, atau menggerakkan, bolak-balik, seperti guncangan mobil ketika melewati polisi tidur beruntun. Itulah sebabnya rock pun berarti bergerak, berputar, atau berdansa mengikuti irama musik. Namun, bukan sembarang musik, melainkan musik rock ’n’ roll yang muncul pada pertengahan abad ke-20 di Amerika berkat pengaruh musik Afrika atas musik Eropa. Salah satu pengaruh ini terletak pada dentuman atau pukulan irama yang kuat.
Istilah rock and roll sendiri bukan hanya mengacu pada jenis musik tertentu, melainkan juga pada sebentuk gaya hidup hura-hura dan agak memberontak, termasuk dalam urusan seksual. Kata kerja roll yang berarti berguling itu memang dekat maknanya dengan apa yang terjadi di atas kasur, walaupun orang Amerika tidak kenal bantal panjang kita yang nyaman itu. Maka, banyak orangtua zaman itu, serta orang-orang yang suka memaksakan kesalehan kepada orang lain, menyebut jenis musik ini musik setan.
Nah, para orangtua zaman sekarang tumbuh dewasa dengan musik rock and roll, jadi mereka tidak terlalu antipati, bahkan masih menikmati. Yang masih jengkel mungkin pemusik ”murni” yang menganggap pengaruh Afrika itu menjerumuskan musik dunia ke level paling rendah asal gedebak-gedebuk. Memang musik tradisional Eropa dan Asia, termasuk musik yang dianggap adiluhung di Nusantara, kadang dianggap lebih unggul karena sudah melewati tahap jingkrak-jingkrak yang infantil itu. Sayang, kalah di pasar.
Jadi, apa pasal dengan cadas? Yah, tidak ada. Kalau istilah itu dipaksakan dipakai terus, namanya kepala cadas. Mau istilah baru? Beberapa kata yang bisa dipertimbangkan termasuk: goyang guling gulung guncang gelinding gelundung gonjang ganjing. Kalau mau gampang: musik rok.
Samsudin Berlian Pemerhati Makna Kata
Gambar : http://www.nazrielfadillah.cc.cc
Belum ada komentar.














